Radio tabung yang sarat dengan kenangan.

radiotabung

Duduk mendengarkan radio pada waktu itu adalah kemewahan yang hanya bisa di nikmati hanya oleh segelintir orang. Dimana listrik masih sangat langka dan harga radio semisal harga sepetak sawah. Tidak jarang masyarakat pinggiran bergerombol di samping rumah seorang juragan yang mempunyai radio hanya untuk mendengarkan siaran keroncong dan mendengarkan siaran wayang semalam suntuk dari RRI Jogjakarta.

Dengan antena kawat tembaga di bentangkan di atap rumah, musik keroncong hadir di kota dan desa dengan suara gemerisik dan mendayu-dayu lantaran propagasi atau cuaca langit yang memantulkan sinyal radio itu hingga membuat suaranya bagai terpantul dan mendesah. Dengan memutar tombol tune kita bisa memilih siaran. Tulisan frekwensi sangat kecil dan bersifat panduan kasar saja. tetapi yang jelas disitu tertulis pemancar berdasarkan kota : Amsterdam, London, Batavia, Luxembourg. Untuk yang lebih modern sudah ada petunjuk Jakarta, Bandoeng, Soerabaia dll.

Baca selengkapnya...
Berlangganan ke pengumpan RSS ini