Sahabat yang tidak satu satunya, pilihan masa kini dan masa depan.

  • 12 Desember 2018 |
  • Diterbitkan di depan

kemudikapal

Sahabat yang baru kukenal selama tiga tahun itu lumayan sexy, berbody besi seberat 64 ribu ton bobot mati. Dengan lambung yang semampai memang tidak seperti sahabat  pada umumnya. Meskipun dia tidak berbicara selain deru diesel dan generatornya yang selalu mendengung sejak pagi hingga pagi tapi dia telah membawaku ku ke dunia antah berantah, negeri jauh dan melambung ke negeri angan angan, negeri sejuta mimpi. Telah mengantarkan ku ke negeri yang hujan tidak lagi gemericik tapi gemuruh dan berdesir desir. Ke negeri dengan padang rumput seluas mata memandang atau ke negeri dimana es tidak di gelas dengan teh akan tetapi est tececer sepanjang jalan bahkan ada yang sebesar gardu.

Baca selengkapnya...

Radio tabung yang sarat dengan kenangan.

radiotabung

Duduk mendengarkan radio pada waktu itu adalah kemewahan yang hanya bisa di nikmati hanya oleh segelintir orang. Dimana listrik masih sangat langka dan harga radio semisal harga sepetak sawah. Tidak jarang masyarakat pinggiran bergerombol di samping rumah seorang juragan yang mempunyai radio hanya untuk mendengarkan siaran keroncong dan mendengarkan siaran wayang semalam suntuk dari RRI Jogjakarta.

Dengan antena kawat tembaga di bentangkan di atap rumah, musik keroncong hadir di kota dan desa dengan suara gemerisik dan mendayu-dayu lantaran propagasi atau cuaca langit yang memantulkan sinyal radio itu hingga membuat suaranya bagai terpantul dan mendesah. Dengan memutar tombol tune kita bisa memilih siaran. Tulisan frekwensi sangat kecil dan bersifat panduan kasar saja. tetapi yang jelas disitu tertulis pemancar berdasarkan kota : Amsterdam, London, Batavia, Luxembourg. Untuk yang lebih modern sudah ada petunjuk Jakarta, Bandoeng, Soerabaia dll.

Baca selengkapnya...

Megatruh, ketika tak ada jalan untuk berpaling pulang

  • 10 Desember 2018 |
  • Diterbitkan di depan

Megatruh, Ketika jasad hendak berpisah dengan sukma, ketika matahari hendak berpisah dengan sinarnya, ketika itulah hanya ada Megatruh, penyesalan dimana tak ada titik balik untuk kembali.
Ketika mulut kehilangan suaranya, ketika mata kehilangan pandangannya, sa'at itulah akan terasa bahwa jalan panjang yang kita lalui hanyalah sekejap.
Situs ini hanyalah kumpulan apa yang tak mungkin ku ulang dalam kehidupan setelah terjerembab dalam absurdnya dunia. Sesuatu yang tidak akan bisa lagi di ulang. Tentang kenangan, tentang rindu tentang harapan yang kini hanyalah selembar perca tipis yang membatasi dengan ketiadaan yang abadi.

Megatruh, dulu hanya memerlukan seteguk air, kemudian ketika itu ditunda, tibalah sa'atnya tidak hanya memerlukan seteguk air tapi bahkan di perlukan pula se onggok kayu untuk menopang badan, ketika itu pun masih di tunda, tibalah masanya diperlukan se unggun api untuk membakar badan yang sudah tidak memerlukan seteguk air dan juga tak perlu penopang lagi. Setitik air yang harusnya menghidupkan akhirnya menjadi se unggun api yang menghentikan semua cita cita keinginan dan bahkan penyesalan sekalipun. Karena pada hari ini pun tak guna ada penyesalan karena hanyalah membuat sesuatunya menjadi semakin pedih.

Baca selengkapnya...
Berlangganan ke pengumpan RSS ini