Sahabat yang tidak satu satunya, pilihan masa kini dan masa depan.

kemudikapal

Sahabat yang baru kukenal selama tiga tahun itu lumayan sexy, berbody besi seberat 64 ribu ton bobot mati. Dengan lambung yang semampai memang tidak seperti sahabat  pada umumnya. Meskipun dia tidak berbicara selain deru diesel dan generatornya yang selalu mendengung sejak pagi hingga pagi tapi dia telah membawaku ku ke dunia antah berantah, negeri jauh dan melambung ke negeri angan angan, negeri sejuta mimpi. Telah mengantarkan ku ke negeri yang hujan tidak lagi gemericik tapi gemuruh dan berdesir desir. Ke negeri dengan padang rumput seluas mata memandang atau ke negeri dimana es tidak di gelas dengan teh akan tetapi est tececer sepanjang jalan bahkan ada yang sebesar gardu.

Gezyena, entahlah nama itu nama apa tapi terkesan seperti nama gadis yang cantik, walau di banyak tempat dan di buritan dekat rantai jangkar penuh karat. Berwarna kelabu dan biru dengan bendera berpalang biru di atas menaranya. Aku bener benar jatuh hati dan bahkan bersumpah akan menjalani hidupku bersamanya hingga akhir hayat. Entah hayat si Gezyena atau justru hayat ku sendiri. Kisah terdahulu sebelum bertemu Gezyena memang tidak membahagiakanku sama sekali. Gezyena adalah pilihan terbaik dan satu satunya. Dengan modal keahlian sekolah kejuruan di bidang elektro dan sekolah berdiploma Markonis ya hanya inilah jalan ku satu satunya menjalani kehidupan setelah sebelumnya aku kehilangan pengakuan dari keluarga sanak teman dan saudara serta dicibir masyarakat.

Agak aneh memang bekerja di tempat seperti ini yang kuanggap tidak bekerja tetapi malahan seperti berpetualang dengan gadis yang di lambungnya tertulis Gezyena. Ketika suatu saat Gezyena sedang beristirahat di negeri singa untuk jangka waktu yang lama sekalian hendak merawat body di Penang yang memakan waktu kira kira satu bulan, aku pergunakan waktu itu untuk sambang ke halaman tempat Sekolah dasar dan SMP yang dulu membesarkanku. Banyak cerita kuhamburkan ke teman, tetangga dan semua orang. Kebanggaan sebagai perwira navigasi termuda di kapal besar berbendera asing sangat melambungkanku pada waktu itu. Umur 24 sebagai pelaut dengan jelajah laut yang ribuan mil memang memabuk kan ku.

Akan tetapi tidak semua gathering dengan sahabat SD ataupun SMP itu membawa bahagia, salah satu sahabat itu ter rundung bencana yang menghanguskan keluarganya. Ibu bapanya, adik dan kakaknya hingga  harus mengungsi  dan berlarian tak tentu arah. Ada intuisi seketika bagiku untuk segera menghambur dan terjun membantu meringankan bahkan mengambil segala beban bencana dari sahabat ku itu. Akan tetapi ternyata tidak semudah itu, totalitas dan kesungguhan ku itu harus kubayar mahal ketika pada puncak satu bulan kemudian tiba. Itulah saat aku harus memilih persimpangan pertama dalam kehidupanku. Akankah aku memilih Gezyena gadis cantik berbobot 64 ribu ton ataukah sahabatku yang tengah di rundung bencana ini ? mahasiswi IKIP berbobot empat puluh kilogram.

Ada dua pilihan pada waktu itu, aku kembali ke Gezyena dan meneruskan kehidupan ku dengan gezyena untuk terus mengarungi lautan dengan berseragam celana pendek warna putih dan mengetuk ngetuk kunci morse atau kah aku harus menemani sahabat ku yang tengah di rundung bencana disini dan mempersetankan Gezyena ? Apakah aku memilih Gezyena adalah satu satu nya sahabat ku ? sementara sahabat yang lain dalam bencana ? Kegalauan itu serta kesibukan antara Ke markas Polisi, Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Tentara bahkan Rumah Sakit jiwa telah menghabiskan waktu dan segala galanya bagiku untuk segera mengambil keputusan. Apalagi ketika hal itu kutanyakan pada sahabatku itu aku akan kembali ke Gezyena hanya di jawab dengan pertanyaan : jangan kami kau tinggalkan dalam suasana berantakan ini, temani kami beberapa saat ketika yang terluka dan sakit sudah sembuh. Sampai hatikah kau tinggalkan kami dalam keadaan begini ?

Kegalauan itu menjadi jadi hingga akhirnya aku tidak bisa memilih karena sudah tidak ada pilihan karena memang lembar dollar yang kupersiapkan untuk kembali ke Penang sudah tidak memadai lagi, hingga akhirnya hanya tersisa beberapa lembar rupiah yang hanya bisa kupakai ke Surabaya, karena disana ada fasilitas untuk ke Penang melalui agen.

Akan tetapi itu pun tersungkur karena lembar seharga tiket bis pun akhirnya tertukar dengan dua bungkus nasi pecel di kantin Rumah Sakit Tentara.

Itulah pertama kali aku menyesal dan ketakutan. pelaut yang berani menghadapi badai akhirnya meratap di sebuah kantin rumah sakit tentara karena tersadar bahwa status sebagai markonis kini berubah menjadi gelandangan.

Nilai butir ini
(0 pemilihan)

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

kembali ke atas