Tuhanku kenapa kau tinggalkan daku

doaTuhan kenapa Kau tinggalkan daku, Eli lama sabhaktani ?, kata kata itulah yang pernah di ucapkan ketika ajal hendak menjemput pada kejadian lebih dari duaribu tahun lalu. Itu di ucapkan ketika di akhir Dia mengatakannya dengan "sudah genap", ketika cawan ini berlalu, maka berlalulah.
Pada hari kelahiran yang mengucapkan itu, kini akulah yang berteriak : Eli, lama sabhaktani. Tuhan kenapa kau tinggalkan daku.
Aku meneriakkan itu karena sepertinya bagiku ini adalah akhir dari perjalananku. Entahlah aku sudah tidak bisa menjatuhkan diri bertumpu pada lutuku untuk mengucap salam kepada Tuhanku yang memang kini sudah tak layak untuk tersilang di dada. Tetapi aku juga masih belum bisa telungkup untuk menghadap Tuhan.


Aku tidak tahu Tuhan kini ada dimana, dan apakah Tuhan masih ada untuk manusia seperti aku yang tak tahu apakah Tuhan itu ada atau tidak. Jika Tuhan itu memang satu dan satu satunya dan ada dimana saja, kenapa aku harus berpaling kepada Tuhan ku yang bagiku memang satu satunya. Apakah Tuhan sudah berganti jubah atau berganti bahasa ?
Memang sudah bukan lagi jamannya di adu dengan singa atau berhadapan dengan pedang melengkung, akan tetapi ternyata di masa ini masih banyak Singa berpedang melengkung yang kini mendorongku ke sudut dimana dinding isolasi dan ancaman yang tak berujung
Beranikah aku memproklamirkan diriku bahwa aku adalah sisa umpan singa atau yang terlewat dari kilatan pedang melengkung itu. Beranikah aku menghadapi singa dan pedang melengkung jaman kini ?
Pada malam ini tak ada sisa keberanian yang tumbuh dalam diriku. Pengecut, coward, munafik atau apapun itu namanya. Tapi aku sembunyi dalam gua batu di sisi kehidupan ku kini yang hanya menengadah memandang kelangit menghitung bintang yang hanya nampak separuh bayang itu

Nilai butir ini
(0 pemilihan)

Berikan komentar

Pastikan anda memasukkan semua informasi wajib, yang bertanda bintang (*). Kode HTML tidak diizinkan.

kembali ke atas