Megatruh, ketika tak ada jalan untuk berpaling pulang

on .

candipngMegatruh, Ketika jasad hendak berpisah dengan sukma, ketika matahari hendak berpisah dengan sinarnya, ketika itulah hanya ada Megatruh, penyesalan dimana tak ada titik balik untuk kembali.
Ketika mulut kehilangan suaranya, ketika mata kehilangan pandangannya, sa'at itulah akan terasa bahwa jalan panjang yang kita lalui hanyalah sekejap.
Situs ini hanyalah kumpulan apa yang tak mungkin ku ulang dalam kehidupan setelah terjerembab dalam absurdnya dunia. Sesuatu yang tidak akan bisa lagi di ulang. Tentang kenangan, tentang rindu tentang harapan yang kini hanyalah selembar perca tipis yang membatasi dengan ketiadaan yang abadi.

Megatruh, dulu hanya memerlukan seteguk air, kemudian ketika itu ditunda, tibalah sa'atnya tidak hanya memerlukan seteguk air tapi bahkan di perlukan pula se onggok kayu untuk menopang badan, ketika itu pun masih di tunda, tibalah masanya diperlukan se unggun api untuk membakar badan yang sudah tidak memerlukan seteguk air dan juga tak perlu penopang lagi. Setitik air yang harusnya menghidupkan akhirnya menjadi se unggun api yang menghentikan semua cita cita keinginan dan bahkan penyesalan sekalipun. Karena pada hari ini pun tak guna ada penyesalan karena hanyalah membuat sesuatunya menjadi semakin pedih.
Akan tetapi penyesalan memang selalu di akhir perjalanan, ketika masa itu menjadi kenyataan apakah yang kita bisa perbuat ? Bahkan berpikirpun tak mampu.

Matahari tak secerah dahulu, angin pun tak lagi sejuk, apakah teriakan itu akan terbawa angin yang memang sudah tidak lagi berhembus ?

Titipkan saja teriakan itu pada jaring laba laba yang sekarang sudah berserat kaca.

Semoga sampai ketika masa itu, yang tak ada nisan, tak ada bunga, engkau menemukan catatan ini sebelum catatan ini dihapus dari dunia angka angka digital.

Semoga saja engkau membacanya dan engkau tahu apa yang kumaksud.

Tapi setidaknya apa yang aku yakini aku pertahankan meski hanya sejauh jaringan serabut kaca ini menyimpan dalam cakram yang entah dimana.

Tak mampu lagi ku ingat tentang raut wajah atau senyum itu,, tak mampu lagi kuingat desir nadi itu.

Yang ada dalam ingatanku adalah pada waktu itu ada kehidupan .......

Apakah rela semua itu berlalu ? biarlah neraka jadi sorgaku jika tidak mau kulepaskan apa yang telah kuingat tentang dunia yang tak indah jika tanpa mimpi tentang Megatruh

Apakah ini Megatruh ? Tentang waktu ? atau berpaling terhadap waktu ? atau berpaling pulang terhadap waktu ?

Samar antara mimpi atau realita. ketukan papan kayu berujung tembaga yang di ujung sana berdesah lemah dah ... dit ... dahh dit ..., atau kah bentakan menggetarkan iman "Porcodio.. !" ataukah  teriakan gemetar yang meleburkan asa : "abandoning aboard ! " sementara jari dengan gemetar mengetuk tiga ketukan pendek dan tiga ketukan panjang dengan tak henti hentinya, Apakah harusnya malam itu adalah kidung Kredo dan bukan tembang Megatruh di hari ini ?

Akan tetapi kapal besar itu ternyata tenggelam dan hancur bukan di telan lautan, tetapi sirna hanya dalam asap kemenyan dan keris karatan, meluluh lantakan tuhan yang tersilang di dada.

Meskipun putus asa, masih ada genta sonar tetap memancar dari setiap detak jantung bernada ping ....... ping ..... ping ..... tapi tak pernah ada echo yang ter dengar......

pernah sekali menggema dalam distorsi

tetapi itu hayalah neraka yang menjadi sorga ku ....

Sementara tak jelas apakah yang tertinggal itu janur atau kah woka ? Megatruh ataukah Maghfirah ?